Dibutuhkan “The Great Mom”!

Oleh: Sukatno, S. Pd, M. Pd, Guru Bahasa Inggris SMAN1 Girimarto Wonogiri

The great mom atau dikenal sebagai ibu yang luar biasa menurut pandangan Islam adalah ibu yang shalihah. Berkenaan dengan keberadaan ibu yang  shalihah, Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah  ibu (wanita) shalihah.” [HR. Muslim]

Salah satu hak dari seorang anak adalah hak untuk diasuh oleh ibu yang shalihah. Ibu yang shalihah adalah ibu yang baik menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, dia sadar terhadap tanggung jawab sebagai orangtua sekaligus guru yang pertama kali bagi anak kandungnya. Dengan memiliki ibu yang shalihah, anak telah memiliki modal berharga untuk menjadi shalih dan shalihah pula.

Ibu shalihah adalah ibu yang merupakan sekolah sekaligus guru kehidupan sepanjang jaman bagi anak-anaknya. Di sinilah anak dari bangun tidur sampai tidur lagi diasuh oleh guru yang mumpuni yang paham tentang pembelajaran di sekolah kehidupan. Anak yang menyusu  ibu yang shalihah hakikatnya anak telah menyerap semua dari kebiasaan ibunya. Karena anak bukan sekadar menyusu asinya, tapi juga menyusu akhlak dan kepribadian ibunya. Ibu digambarkan dalam mutiara hikmah  yang terjemahanya kurang lebih:

Ibu adalah sekolah
Jika engkau menyiapkannya
Maka engkau telah menyiapkan generasi yang baik dan tangguh
Ibu adalah penentu dan pengukir kepribadian  anak-anaknya. Kalau dia mengajarkan kebaikan
kepada anak-anaknya, maka dia telah mengukir kebaikan kepada anak-anaknya.

Mendidik itu laksana menanam benih. Ibu shalihah adalah lahan yang gembur yang akan menghasilkan tanaman subur dan berbuah dengan memuaskan. Anak adalah tanaman dari orangtua, maka sebagai orangtua idealnya harus shalih terlebih dulu agar mampu menghasilkan generasi shalih dan shalihah.

Modal Ibu Shalihah

Sebagai seorang ibu biasa tidak harus memiliki modal harta benda yang melimpah dalam kehidupan, namun modal non materi justru lebih utama. Bagi ibu shalihah harus memiliki modal keunggulan (excellence). Keunggulan tersebut sebagai modal berharga tidak hanya ibu sebagai pendamping suami namun sebagi guru yang baik bagi anak-anaknya.

Ibu disebut sebagai ibu shalihah setidak-tidaknya memiliki 6 modal keunggulan dengan akronim ISLAMI yaitu Iman kepada Allah dan Rasul-Nya, Sabar dalam bertindak, Lemah-lembut penuh kasih sayang dalam bergaul baik kepada suami, anak, dan sanak saudara, Amanah dalam menjalankan tugas sebagai ibu dan istri, Menggembirakan dan membahagiakan tidak hanya kepada suami tetapi juga terhadap anak-anak, yang terakhir adalah Ikhsan yaitu modal kebaikan akhlak terhadap siapapun.

Uraian singkat modal ISLAMI bagi seorang ibu shalihah sebagai berikut: Iman kepada Allah dan Rasul adalah modal wajib bagi ibu shalihah. Karena, segala perbuatan baik tanpa landasan iman kepada Allah dan Rasul tidak ada harganya.

Modal berikutnya adalah Sabar. Ibu shalihah tak pernah berhenti belajar menjadi sabar. Dalam  Surat Al Baqarah 153, Allah berfirman yang artinya, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu”.

Ketiga, Lemah lembut dan penuh kasih sayang, seandainya kekasaran diterapkan oleh ibu dalam mendidik anak, maka dipastikan akan lahir generasi yang brutal dan kasar. Karena ibu adalah role model bagi anak-anaknya.

Keempat, Amanah atau tanggung jawab yang diemban, dalam Al-Qur’an Surah Al-Anfaal ayat 27 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”.  

Kelima, Menggembirakan, penanaman  nilai-nilai pendidikan akan lebih bermakna jika tertanam dengan suasana menggembirakan, tetapi suasana pendidikan yang menjengkelkan akan tidak efektif, karena anak akan cenderung lari untuk meninggalkan. Ada sebuah hadits yang artinya, “Mudahkanlah dan janganlah kamu mempersulit. Gembirakanlah dan janganlah kamu membuat mereka lari.” [HR. Bukhari]

Yang terakhir adalah Ikhsan. Ikhsan adalah puncak ibadah dan akhlak (amal shaleh) yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah SWT. Sebab, ikhsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah SWT.

Rasulullah Saw sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajarannya mengarah pada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia. “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (ikhsan).” [QS. Al-Baqarah [2] : 195]

Keunggulan Ibu Shalihah vs Ibu Gagal

Setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Sumbang sih dari seorang ibu yang tidak biasa (extra ordinary mom) sangat penting, untuk mencapai kehidupan bahagia dunia dan akhirat bagi suami, anak dan diri sendiri, tentu berdampak terhadap kejayaan bangsa dan negara. Namun bagi ibu yang jauh dari keshalihan (baca: ibu gagal), alamat akan menghantarkan kepada neraka dunia bahkan sampai di akhirat.

Penghormatan Islam yang tertinggi kepada para ibu, antara lain tergambar dalam sabda Nabi Saw, “Syurga itu berada di bawah telapak kaki ibu” . [HR. Ahmad] Surga sangat identik dengan kebahagiaan, ibu yang disebut dalam hadits di atas tentu ibu yang baik, bukan sembarang ibu atau ibu gagal. Untuk menggambarkan secara sederhana antara ibu yang shalihah dengan ibu yang gagal  adalah sebagai berikut:

Ibu shalihah selalu menjaga nama baik suami, anak dan diri sendiri.
Ibu gagal merasa tidak peduli arti kehormatan.
Ibu shalihah adalah ibu penyantun dan penyabar.
Ibu gagal ibu yang mudah marah dan malas belajar menjadi sabar.
Ibu shalihah  merasa jalan keluar itu sulit tapi mungkin dilakukan.
Ibu gagal merasa jalan keluar itu sulit.
Ibu shalihah memiliki cita-cita luhur yang akan diwujudkan.
Ibu gagal memiliki angan-angan dan mimpi yang mengacaukan.
Ibu shalihah bergaul dengan manusia luhur.
Ibu gagal bergaul tidak peduli arti keluhuran.
Ibu shalihah berusaha bahagia dalam menjaga amanat sebagai ibu.
Ibu gagal merasa susah dalam mengemban amanat.
Ibu shalihah melihat masa yang akan depan dengan menanam kebaikan.
Ibu gagal melihat masa lalu dan tenggelam dengannya.
Ibu shalihah memilih dan memikirkan apa yang dia akan katakan.
Ibu gagal mengatakan apa yang dia pilih dengan ketidaksabaran.
Ibu shalihah berdebat dengan kemampuan dan bahasa yang lembut.
Ibu gagal berdebat dengan kelemahan dan bahasa yang kasar.
Ibu shalihah rela intropeksi diri.
Ibu gagal senang mencari kekurangan orang lain.
Ibu shalihah membuat masalah rumit menjadi sederhana.
Ibu gagal membuat masalah sederhana menjadi  sulit.

Negeri  yang kita cintai ini merindukan kehadiran ibu shalihah, dari sentuhannya lah akan lahir generasi shalih dan shalihah yang selalu perpegang pada akhlakul karimah. Doa dan harapan mari kita panjatkan atas kehadiran umi shalihah. Allahu a’lam bishawaf.

*Dimuat di majalah RESPON edisi 261 / XXVI 20 Februari – 20 Maret 2012

, ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: