Memaknai Pendidikan Islam

Pendidikan secara umum bertujuan untuk memperbaiki manusia dengan memaksimalkan apa yang ada dalam dirinya sehingga menjadi manusia yang sesempurna mungkin baik dari segi kemampuan bertindak, berempati dan berpikir. Mulai dari sinilah bahwa pendidikan sekarang bukan lagi menjadi kebutuhan sekunder apalagi tersier, tapi sudah menjadi kebutuhan primer. Lalu bagaimana dengan pendidikan agama yang dalam hal ini adalah pendidikan agama Islam sendiri? Tentu lebih penting lagi dan mutlak didapatkan dimanapun berada. Mulai dari institusi yang terkecil yaitu keluarga, maka pendidikan Islam mulai diberikan karena merupakan suatu kebutuhan.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa degradasi moral suatu bangsa tidak dapat menutup mata dari kurangnya implementasi pendidikan agama yang ada dan diberikan kepada generasinya. Atau mungkin karena meremehkan pendidikan agama yang ada sehingga tidak mampu menimbulkan rasa enak dalam diri setiap orang untuk mengamalkan apa yang telah dipelajarinya.

Memulainya dari Rumah

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) pasal 10 ayat 5 menyebutkan bahwa pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga, dan memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan. Penyerahan pendidikan Islam kepada sekolah secara keseluruhan dalam istilah Jawa mengatakan “pasrah bongkoan” bukanlah pilihan yang tepat. Seorang anak memiliki kecenderungan kedekatan dengan keluarga baik ketika ia kanak-kanak hingga remaja dan dewasa sekalipun oleh karena itu antara sekolah dan rumah harus berkesinambungan dan bekerjasama dengan baik.

Sebelum mengenal dunia luar, anak terlebih dahulu mengenal keluarganya. Dan pada masa perkembangan emasnya pun, pada 6 tahun pertama ia menghabiskan waktunya lebih banyak dengan keluarganya. Hal yang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa seorang anak yang lahir dengan keluarga yang harmonis maka ia akan menjadi anak yang penuh dengan kegembiraan ketika berada di lingkungan masyarakat dan sekolah sehingga ia mampu untuk menerima ilmu dan pengetahuan dengan baik. Termasuk pada pendidikan agama Islam.

Keluarga memiliki fungsi keagamaan, dalam arti bahwa keluarga merupakan pusat pendidikan, upacara dan ibadah agama bagi para anggotanya, di samping peran yang dilakukan institusi agama. Fungsi ini penting artinya bagi penanaman jiwa agama pada si anak. Orangtua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka. Melalui metode keteladanan dan pembiasaan orangtua secara sadar atau tidak telah mendidik anak karena dalam diri setiap anak terdapat suatu dorongan dan suatu daya untuk meniru. Dengan ini anak dapat mengerjakan sesuatu yang dikerjakan oleh orangtuanya. Oleh karena apa yang ditanamkan orangtua akan menjadi watak dan kepribadian anak.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Tidaklah seseorang yang dilahirkan melainkan menurut fitrahnya, maka kedua orang tuanyalah yang meyahudikannya atau menasronikannya atau memajusikannya.  [HR. Bukhari]

Terlebih bahwa anak merupakan amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan kelak. Oleh karena itu, orangtua harus menjaga, memelihara, mengantarkan anaknya untuk mengenal dan menghadapkan diri kepada Allah SWT. Dalam pelaksanaan oleh anakpun, orangtua harus memberikan dorongan-dorongan, karena tanpa itu ia tidak akan mau mengenal Islam dengan baik. Untuk itu, keluarga yang ada di dalam bangunan yang disebut dengan rumah memiliki peran yang strategis dalam pendidikan Islam.

Pentingnya Pendidikan Islam di Sekolah

Pendidikan Islam di sekolah diwujudkan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), dengan pengertian bahwa PAI adalah upaya menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.

Para pakar pendidikan agama Islam memberikan arti pada PAI sebagai suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh dan menjadikan dirinya insan yang mematuhi perintah dan menjauhi larangan Allah. Pendidikan agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Untuk sampai menjadi PAI sekarang ini yang mudah dikenyam di setiap jenjang pendidikan bukanlah hal yang mudah. PAI telah mengalami pergantian peraturan dan kebijakan, baik dari pemerintah pusat hingga daerah, dari pemerintahan yang sentralisasi hingga desentralisasi.

Sejarah Adanya PAI di Sekolah Umum

Indonesia merupakan negara yang religius, hal ini dibuktikan dengan sejarah bangsa Indonesia yang penuh dengan kepercayaan-kepercayaan. Dalam mata pelajaran sejarah pun penggolongan kerajaan-kerajaan di Indonesia berada dalam jenis agama yaitu kerajaan Hindu-Budha dan kerajaan Islam. Hingga pada saat kemerdekaanpun maka Indonesia menelurkan UUD 1945 yang salah satu pokok pikirannya menyebutkan bahwa negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam batang tubuhnya diatur hal yang berkenaan dengan ketuhanan, yakni pada pasal 29 ayat 1 dan 2.

Pendidikan agama termasuk pendidikan agama Islam masuk ke sekolah umum pada tahun 1946 atas prakarsa menteri PKK (Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan), Ki Hajar Dewantara. Selanjutnya pada tahun 1960 hasil sidang MPRS menyatakan bahwa pendidikan agama menjadi pelajaran di sekolah-sekolah umum dimulai dari sekolah dasar sampai Universitas dengan ketentuan murid berhak tidak ikut serta dengan pendidikan agama jika wali atau orangtuanya menyatakan keberatan. Hingga akhirnya setelah adanya pemberontakan G 30 S PKI tahun 1965 yang membawa paham komunis, pemerintah dan masyarakat sadar akan pentingnya pendidikan agama.

Melalui sidang MPRS tanggal 5 Juli 1966 dihasilkan TAP MPRS No.XXVII/MPRS/1966 tentang agama, pendidikan dan kebudayaan bab I pasal 1 TAP MPRS tersebut berbunyi ”Menetapkan pendidikan agama menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah mulai dari Sekolah Dasar sampai Universitas-Universitas Negeri”. Ketetapan MPRS tersebut kemudian mengubah ketetapan hasil sidang MPRS tahun 1960 dengan mewajibkan para mahasiswa mengikuti pengajaran/kuliah agama, serta mereka tidak diizinkan lagi untuk tidak mengikutinya. Dengan keputusan tersebut, pengajaran materi pendidikan agama mulai diwajibkan dari kelas 1 Sekolah Dasar. Hingga saat sekarang ini pemerintah mengeluarkan UUSPN No. 2/1989 pasal 39 ayat (2) yang lebih menegaskan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat mata pelajaran tertentu yang salah satunya adalah Pendidikan Agama.

Jadi, pendidikan Agama Islam berada pada pendidikan formal merupakan usaha pemerintah untuk menjaga generasi penerus bangsa dari pemikiran-pemikiran radikal dan pemahaman yang tidak bertuhan.

Pendidikan merupakan salah satu cara Rasulullah Saw untuk memperbaiki manusia, karena dengan pendidikanlah manusia memiliki ilmu yang benar. Dengan demikian, ia terhindar dari ketergelinciran pada maksiat, kelemahan, kemiskinan dan terpecah belah. Urgensi pendidikan Agama Islam dapat dilihat dari pengertian pendidikan agama Islam itu sendiri.

Pendidikan agama merupakan usaha untuk memperkuat iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan Nasional. Pendidikan agama Islam merupakan salah satu cara untuk menyentuh tiga komponen sikap keagamaan yang ada dalam diri manusia. Yaitu pertama komponen kognisi, adalah segala hal yang berhubungan dengan gejala fikiran seperti keimanan. Kedua, komponen afeksi, adalah segala hal yang berhubungan dengan gejala perasaan (emosional: seperti senang, tidak senang, setuju), dan yang ketiga adalah komponen konasi yaitu kecenderungan untuk berbuat, seperti memberi pertolongan, menjauhkan diri dan mengabdi.

Pengembangan potensi keagamaan tersebut akan mampu memperbaiki akhlak dan mendidik hati nurani dan mendorong mereka untuk memperbuat pekerjaan yang mulia. Dengan pendidikan agama, maka anak-anak menjadi tahu dan mengerti akan kewajibannya sebagai umat beragama.

Nah, tantangan PAI di masa sekarang adalah terkadang ia dianggap sebagai mata pelajaran tambahan belaka dan terkadang diremehkan. Inovasi PAI tentunya menjadi solusi tepat untuk menekankan pentingnya Pendidikan Agama Islam di sekolah. [s3 : berbagai sumber]

*Telah dimuat di RESPON edisi 253 / XXV 20 Juni – 20 Juli 2011.

, ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: