JogjaJE, Supporting Aktivitas-aktivitas Dakwah Kemajelisan

Foto : JogjaJE.net

foto : JogjaJE.net

Jika berbicara tentang JogjaJE, pasti banyak dari sobat muda yang mengaitkannya dengan Sanggar Semu (Sanggar Seni Muda) MTA. Pasalnya, sudah beberapa kali Sanggar Semu MTA menggelar pementasan teater. Sebut saja Brama Kumbara modern dan juga Wali in Final Fantasy of Java. Teater religi ini banyak didukung oleh anak-anak JogjaJE, meskipun juga melibatkan anak IMAMTA dan SMA MTA. Tak heran, banyak dari kita yang berpikir bahwa kegiatan anak-anak JogjaJE hanyalah mencakup di bidang seni saja.

Sesuai misinya yang mendukung penuh kegiatan dakwah MTA, kegiatan-kegiatan JogjaJE tak hanya di bidang seni saja, tetapi juga mencakup berbagai bidang yang lain. Setidaknya ada 4 divisi dalam struktur organisasi JogjaJE, diantaranya divisi Olahraga, divisi IT (Information Technology), divisi Litbang (penelitian dan pengembangan) dan usaha dan divisi Seni.

“Tujuannya adalah meng-cover potensi-potensi yang ada pada teman-teman. Divisi olahraga, kita mengakomodir kepentingan teman-teman yang hobi dengan olahraga tertentu misalnya futsal atau badminton. Divisi IT, bagi teman-teman yang respek dengan IT, termasuk yang mengurusi website. Divisi litbang dan usaha, kita mengembangkan potensi-potensi ekonomi teman-teman. Dari teman-teman kan ada yang punya usaha, misalnya ada usaha pulsa, merchandise dan sebagainya. Termasuk jika ada event seperti peresmian, kita bisa buka stand,” ungkap ketua JogjaJE, Ali Imron saat ditemui RESPON usai menghadiri kajian Ahad Pagi beberapa waktu lalu.

Sementara divisi Seni, katanya lagi, mengakomodir bagi mereka yang punya potensi di bidang seni. Divisi seni inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Sanggar Semu MTA. Mulai tahun ini, Sanggar Semu MTA telah membentuk komunitas sendiri, langsung di bawah MTA Pusat.

Seperti dikutip jogjaje.net, JogjaJE merupakan komunitas yang berisi angkatan muda MTA Perwakilan Yogyakarta, dengan beragam latar belakang mulai dari akademisi hingga pengusaha. JogjaJE ada sejak tahun 2007. Berawal dari acara kumpul-kumpul di pengajian gelombang 2 setiap hari Jumat pukul 5 pagi, maka komunitas ini pun muncul. Walaupun denyut kehidupan dari komunitas ini sudah mulai terasa ketika rekan-rekan HIMAMTAS Semarang bersilaturahim ke MTA Perwakilan DIY, namun keberadaannya semakin terkukuhkan saat gelombang 2 jam 5 pagi mulai aktif.

“Karena teman-teman menyadari bahwa kita punya kemampuan, punya potensi yang beda-beda, apakah itu dari seni, IT, olahraga dan seterusnya, lha kenapa itu tidak diwadahi. Maka dari itu kemudian memunculkan membentuk komunitas ini,” ujarnya.

Awalnya, komunitas ini tidak bernama. Namun karena usulan dari salah satu rekan untuk memberi nama komunitas tersebut, maka akhirnya dinamai dengan komunitas JogjaJE.

Pendukung Kegiatan Dakwah Kemajelisan

Kegiatan anak-anak JogjaJE juga mencakup kegiatan-kegiatan yang mendukung dakwah kemajelisan, seperti driver, penderek (pendamping) ustadz, mengajar di TPA, tahsin, pengajian gelombang, dan piket kemajelisan. “Driver itu khusus nyopir, kalau penderek itu mendampingi ustadz, mulai dari berangkat sampai menemani saat kajian berlangsung,” kata mahasiswa S2 Sosiologi UGM ini.

Meskipun hanya menjadi pendamping ustadz, diharapkan suatu saat nanti akan menjadi generasi penerus yang akan meneruskan perjuangan dakwah para generasi sebelumnya. Untuk membekali para calon dai muda ini, beberapa waktu lalu MTA Perwakilan Jogja juga mengadakan training dai.

Di samping itu, anak-anak JogjaJE juga akan ambil bagian setiap pengajian akbar dalam rangka peresmian cabang-cabang MTA di Jogja digelar. Semua memang dilibatkan dalam kegiatan dakwah ini. Tetapi pada realitanya, ada beberapa diantara mereka yang lebih mementingkan kegiatan lain ketimbang kegiatan dakwah di majelis. “Kita masih muda, kita berada dalam kondisi yang dalam psikologis dikatakan labil, masih mencari formasi-formasi bagaimana kita berhadapan dengan sistem yang baru,” ujarnya.

Sebagai ketua, ia harus bisa memotivasi anggotanya agar mereka juga turut mendukung kegiatan dakwah. Beberapa pendekatanpun dilakukan, salah satunya adalah pendekatan melalui forum. Misalnya usai pengajian gelombang dapat dimanfaatkan untuk memberikan sedikit motivasi kepada rekan-rekan.

Jika pendekatan lewat forum kurang efektif, maka bisa dilakukan dengan pendekatan emosional (psikologi). “Karena saya dari Sosiologi jadi saya lebih banyak bermain antara psikologi dan sosial. Saya gunakan ilmu saya itu untuk mengajak teman-teman, tetapi saya harus punya data dong. Misalnya, kenapa sih teman-teman terlambat ngaji, saya harus punya data, misalnya jadwal kuliahnya gimana, karena mungkin bisa jadi jadwal kuliahnya bentrok dengan jadwal ngaji,” jelasnya.

Di samping itu, perlu juga mengetahui lebih dalam bagaimana sifat dan kemampuan dari masing-masing anggotanya. “Sehingga ketika saya memberikan sebuah kebijakan atau tugas, saya tidak bisa menyamaratakan dengan semua orang. Yang lebih penting bagi saya adalah proses, bukan hasil. Hasil tetap penting, tetapi jangan melupakan proses. Karena ketika orang berorientasi pada hasil, orang melupakan humanisme, jadi sisi-sisi psikologi itu tidak diperhatikan,” tambahnya.

Bagi pemuda yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Negeri Surabaya ini setiap orang mempunyai capability yang berbeda-beda. Mereka pun juga punya semangat yang berbeda pula untuk bisa maksimal menjalankan tugas-tugas yang diamanahkan. “Tantangannya adalah saya harus bisa bagaimana caranya menyelaraskan antara anggota dengan potensi yang ada,” cetusnya.

Munculnya generasi-generasi muda yang punya semangat tinggi untuk ikut memperjuangkan dakwah memang sangat diharapkan kehadirannya. Bagaimanapun usia muda merupakan usia produktif untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kemajuan dakwah Islam. Melalui komunitas muda seperti JogjaJE, IMAMTA dan lain sebagainya ini diharapkan dapat memberi kontribusi yang positif dalam perjuangan dakwah.

Ketua JogjaJE, Ali Imron

Ketua JogjaJE, Ali Imron

Selama ini, komunitas atau organisasi muda yang terbentuk memang baru mencakup satu wilayah tertentu saja, misalnya JogjaJE hanya di Jogja, IMAMTA hanya di Solo Raya dan HIMAMTAS hanya di Semarang, belum mencakup wilayah yang lebih meluas lagi. “Mungkin kalau berpikir ke arah sana, mencoba untuk mensinergikan semuanya belum ya. Tetapi untuk membangun jejaring yang lebih kuat, setidaknya sudah ada,” ujar pemuda asal Surabaya ini.

Sanggar Semu MTA yang sekarang langsung di bawah MTA Pusat, diharapkan bisa menjadi pioneer untuk membentuk komunitas yang lebih luas lagi. Memang, Sanggar Semu MTA merupakan komunitas yang mewadahi di bidang seni, namun diharapkan akan menjadi inspirasi bagi para pemuda MTA untuk membuat gebrakan lain dalam kontribusinya memajukan dakwah. “Tahun ini kita berusaha merubah mindset bahwa Sanggar Semu itu bukan dari Jogja, atau mahasiswa JogjaJE, tetapi milik semua dan ini adalah kegiatan pemuda MTA. Saya pikir itu dulu yang harus kita bangun sebelum kita melakukan gebrakan yang lain,” tandasnya.

Ia pun berharap agar para pemuda MTA ini dapat menjadikan pengalaman yang mereka alami sebagai bahan intropeksi untuk menjadi yang lebih baik. “Jangan takut melakukan sesuatu untuk mengembangkan potensi. Selain itu, empatinya juga harus ditanamkan saat kita bekerja dalam satu tim,” tukasnya.

Yang tidak kalah penting yang perlu juga diperhatikan, lanjutnya, adalah kepekaan sosial. Menurutnya, dengan kepekaan sosial seseorang akan mampu melihat realitas atau permasalahan sosial secara utuh sehingga mampu menemukan alternatif solusi pemecahannya. “Selain itu dengan kepekaan sosial seseorang akan mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial. Dan yang juga tidak kalah penting akan menjadikan seseorang menjadi lebih dewasa dalam bersikap dan berperilaku,” pungkasnya. [frizz]

*Telah dimuat di RESPON edisi 253 / XXV 20 Juni – 20 Juli 2011.

, ,

  1. #1 by firman erwan on November 21, 2011 - 2:13 pm

    subhnallah…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: