Tawakal kepada Allah SWT

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, dikisahkan cerita tentang perang Dzatur riqa’, ketika Rasulullah Saw sedang beristirahat di bawah sebuah pohon, sedangkan pedang beliau tergantung di pohon. Tiba-tiba datang seorang musyrikin yang mengambil pedang beliau sambil berkata, siapa yang dapat melindungimu dariku? Namun dengan sangat tenang Rasulullah Saw menjawab, “ Allah”. Setelah tiga kali bertanya, dan Rasulullah menjawab dengan mantab dengan jawaban yang sama, tiba-tiba pedang yang dipegang orang musyrik itu jatuh. Lalu Rasulullah Saw mengambil pedang tersebut seraya bertanya, sekarang siapakah yang dapat melindungimu dariku?

Kisah tersebut adalah sekelumit bagaimana seorang insan yang begitu yakin akan kekuasaan dan pertolongan yang diberikan kepadanya oleh Sang Pencipta. Ketika logika tidak dapat lagi menjelaskan tentang nasib seorang manusia, atau ketika usaha sudah maksimal dilakukan dan tidak ada lagi yang dapat dilakukan manusia untuk menghadapi masalahnya, maka di saat itulah seorang manusia pasti terbersit sebuah rasa kepasrahan dan harapan kepada Allah SWT Sang Pemilik Kuasa atas segala persoalan. Dan nyatanya Allah SWT selalu menunjukkan kebesaran-Nya dan tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang berpasrah diri kepada-Nya.

Tentu, tawakal adalah masalah hati karena rasa tawakal kepada Allah SWT akan timbul ketika dalam diri manusia benar-benar tertanam keyakinan akan eksistensi Allah SWT yang menguasai alam dan selalu memelihara makhluk-Nya, dan selalu memberi pertolongan. Orang yang yakin bahwa Allah selalu dekat dan sewaktu-waktu hidupnya akan tenteram. Orang ini akan berfikir bahwa semua masalah yang dia hadapi hanyalah persoalan ringan, karena dia memiliki Tuhan yang Maha Hebat. “Semua masalahku biasa, Tuhanku yang luar biasa,” begitulah tertanam dalam hati.

Ada banyak peristiwa di dunia ini yang menunjukkan bahwa kepasrahan dan ketawakalan manusia selalu berujung pada datangnya pertolongan Allah SWT. Ketika kaum muslimin di Badar yang berjumlah 300 orang dengan senjata seadanya dan akan menghadapi bala tentara kafir quraisy berjumlah 1000 tentara dengan senjata lengkap, maka saat itu yang ditanamkan Rasul kepada tentaranya adalah agar mereka semua yakin dan berpasrah tawakal kepada pertolongan Allah. Pasukan kecil ini dengan segenap keyakinan terhadap pertolongan Allah akhirnya berhasil memukul pasukan lebih besar dengan persenjataan yang lebih lengkap.

Lingkungan sekitar kita memberi ibrah yang luar biasa, ketika cicak yang tidak bisa terbang, semut-semut kecil, anak-anak burung yang belum bisa terbang, semuanya bisa hidup dan mendapatkan rejekinya dari jalannya masing-masing. Ini menunjukkan sekali lagi bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan makhluk-Nya. Dari Umar bin Khathab, Rasulullah bersabda, “Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi dengan perut kosong dan pulang sore dengan perut kenyang”. [Shahih, Tirmidzi 2344 dan berkata, hadist hasan shahih, Ibnu Majah 4164, Ahmad, dishahihkan al Akbani]

Allah juga berfirman yang artinya, “…Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya...” [QS. At-Thalaaq [65] : 3]

Dalam Surat lain Allah juga berfirman yang artinya, “…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” [QS. Ali Imran [3] : 159]

Tawakal Bukanlah Pasrah Buta

Dalam istilah Jawa ada pepatah pasrah bongkokan”. Maksudnya adalah manusia sudah benar-benar pasrah terhadap persoalan hidupnya tanpa melakukan usaha sama sekali untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Hal ini adalah pemahaman tawakal yang keliru, tentu saja. Tawakal bukanlah pasrah bongkokan. Dalam sebuah riwayat, dari Anas bin Malik RA, ada seseorang berkata kepada Rasulullah Saw. “Wahai Rasulullah Saw, aku ikat kendaraanku lalu aku bertawakal, atau aku lepas ia dan aku bertawakal?” Rasulullah Saw menjawab, “Ikatlah kendaraanmu lalu bertawakallah.” [HR. Tirmidzi]

Atau dalam riwayat lain, dari Anas RA ia berkata : “Pada suatu hari datanglah seorang lelaki menemui Nabi Saw dengan mengendari unta betina. Kemudian ia tinggalkan begitu saja unta itu di salah satu pintu masjid dan masuk menemui Rasul. Melihat hal itu Rasul Saw bertanya kepada orang itu kenapa ia tinggalkan untanya di depan pintu masjid tanpa ditali. Orang itupun menjawab : “Memang aku biarkan dia karena aku tawakal kepada Allah.” Mendengar itu Nabi Saw bersabda : “Tali dahulu kudamu barulah kamu tawakal kepada Allah.” [HR. Tirmidzi]

Atau dalam kisah Sufi diceritakan tentang dua tokoh Sufi yang bertemu dan terjadi dialog di antara mereka tatkala mereka melihat burung yang patah sayapnya yang sedang disuapi oleh burung lainnya di sebuah padang pasir. “Subhanallah, dengan kuasanya tak pernah sedikit pun Allah meninggalkan hamba-Nya. Mengapa aku harus mencari rezeki Allah, untuk burung yang patah sayapnya sekalipun Allah tidak melupakannya”.

“Benar saudaraku, rahman dan rahim Allah meliputi segala sesuatu. Namun, burung yang mengantarkan makanan kepada burung yang patah sayapnya jauh lebih baik, ia lebih memiliki kekuatan untuk memberi daripada kepasrahan hanya menerima.”

Ketika seseorang sakit, dia akan bertawakal setelah dia berobat semaksimal mungkin agar penyakitnya sembuh. Setelah dia berobat maksimal, barulah dia menyerahkan sepenuhnya penyakitnya kepada Allah SWT. Obat yang dia minum adalah perantara ketika Allah menyembuhkan penyakitnya.

Maka definisi tawakal dari segi bahasa, berasal dari kata ‘tawakala’ yang memiliki arti; menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan (Munawir, 1984 : 1687). Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT. Ibnu Qoyim al-Jauzi mendefinisikan tawakal sebagai “…amalan dan ubudiyah hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala ‘kecukupan’ bagi dirinya…, dengan tetap melaksanakan ‘sebab-sebab’ serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.” [Al-Jauzi/ Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail minal Kitab was Sunnah, 1975 : 254]

Tentu kita berdoa bersama, semoga kita menjadi manusia-manusia yang yakin terhadap kekuasaan Allah, dan menjadi manusia-manusia yang bertawakal kepada-Nya. Allah berfirman dalam QS At-Thalaaq ayat 3 yang artinya, Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [hsn]

*Telah dimuat di RESPON edisi 253 / XXV 20 Juni – 20 Juli 2011.

,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: