Mendambakan “Home Sweet Home”

Oleh: Sukatno, S.Pd, M.Pd, Guru SMAN I Girimarto

Home sweet home merupakan ungkapan yang memiliki  kedekatan  arti dengan  baitii jannatii  atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “rumahku surgaku”. Kita sering mendengar ungkapan “rumahku surgaku” yang artinya tidak ada tempat yang paling nyaman selain rumahku. Dalam ungkapan  tersebut bisa difahami bahwa bentuk fisik rumah tidaklah begitu penting. Rumah besar–kecil, mewah–sederhana, berdinding kayu atau tembok, berpekarangan atau saling berhimpitan dengan dinding tetangga, semuanya tidak mengurangi makna surga atau istana yang identik dengan kesan indah nyaman, dan penuh kebahagiaan.

Rumah yang bernuansa surga adalah harapan bagi setiap manusia yang berusaha memilki  jiwa-jiwa mulia laksana malaikat bukan setan yang terlaknat. Dari kumpulan jiwa-jiwa mulia yang selalu dekat dengan Tuhannya akhirnya terbentuklah rumah tangga yang penuh berkah. Namun, sebaliknya rumah tangga yang jauh dari keberkahan-Nya laksana neraka yang dikenal dengan “broken home”.

Peran Rumah 

Rumah bukan saja sekedar bangunan untuk tempat berteduh, namun rumah sebagai tempat  penghidupan keluarga untuk tumbuh dan berkembang dalam artian yang lebih luas. Kalau diibaratkan rumah itu sebagai makhluk, dia mampu untuk memberdayakan dan juga sebaliknya dia juga mampu menyengsarakan penghuninya. Peran rumah setidak-tidaknya ada lima yang disingkat dengan 5 M yaitu: mengukir sejarah hidup, melambangkan perjuangan hidup, membentuk budaya, membangun komunitas belajar, dan meningkatkan ibadah. Berikut ini penjabaran singkat mengenai peran rumah bagi penghuninya.

Mengukir sejarah hidup. Rumah adalah tempat kita berkumpul bersama keluarga, bersama orang-orang yang kita cintai dan yang mencintai kita. Rumah seringkali merupakan tempat kita atau anak-anak kita lahir, tumbuh besar dan dewasa. Rumah tak ubahnya album memori atau catatan harian yang menyimpan banyak kenangan atas berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya. Apalagi jika rumah tersebut adalah rumah yang diwarisi secara turun temurun. tentunya kesan mendalam lebih terasa. Mungkin tidak ada yang menduga sebelumnya bahwa salah satu penghuni rumah tersebut tumbuh menjadi orang besar dan berguna, atau lebih jauh lagi karena amal ibadah dari para penghuni menghantarkannya masuk surga.

Melambangkan perjuangan hidup. Rumah dengan segala bentuk dan isinya juga merupakan simbol perjuangan baik fisik maupun non fisik. Sebagai contoh perjuangan fisik, berkat kerja keras untuk menjemput rejeki dari Allah SWT, pemiliknya mampu membangun pondasi rumah, melengkapi bagian pagar, mengisinya dengan benda-benda pelengkap kebutuhan kita seperti lemari, kursi, dan lainnya. Sedangkan perjuangan non fisik mencakup pembentukan mental spiritual yang mencakup keimanan, sehingga kebaikan akhlak terhadap Tuhannya dan sesama manusia terbentuk. Dari perjuangan yang bersifat non fisik, akhirnya menjadikan penghuninya termasuk pribadi terpuji di mata Allah SWT.

Membentuk budaya. Rumah kita memiliki ukuran, bentuk, dan gaya tertentu. Rumah dan penataannya selain dipengaruhi oleh ekonomi dipengaruhi juga oleh budaya yang dikembangkan oleh penghuninya, misalnya apakah mereka terbiasa budaya Islami apa tidak, bersih dan teratur apa tidak, apakah penghuninya bersifat materialistis apa tidak, semuanya bisa terlihat. Budaya yang sudah terbentuk dalam rumah dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dari hari ke hari. Kebiasaan-kebiasaan akan terbentuk selaras dari sisi ide, impian, dan cita-cita bersama dari para penghuninya terutama dari orangtuanya.

Membangun komunitas belajar. Komunitas belajar yang efektif bisa berawal dari rumah, jika rumah dipimpin oleh kepala rumah tangga yang sadar pentingnya belajar. Rumah yang layak untuk belajar adalah rumah yang menyediakan berbagai sarana pembelajaran misalnya buku-buku yang bermanfaat dan ruangan yang memadai untuk sarana belajar. Keberhasilan pembelajaran di rumah banyak ditentukan oleh gurunya dalam hal ini kedua orangtuanya. Bimbingan secara intensif di dalam rumah menjadikan para putra benar-benar telah siap mendapat pembelajaran formal di sekolah.

Meningkatkan ibadah. Tidak diciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada Allah SWT, itulah salah satu misi diciptakan alam raya ini. Apapun profesi manusia baik penguasa maupun rakyat biasa, mereka berkewajiban beribadah kepada-Nya. Terwujudnya kesadaran untuk beribadah di rumah merupakan tanggung jawab awal dari kepala rumah tangga. Demikian juga bila para penghuni rumah jauh dari nilai-nilai ibadah, pertanggungjawaban ada pada orangtuanya. Mestinya sebagai orangtua memiliki misi untuk selalu berlomba meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.

Modal Utama Orangtua

Terciptanya home sweet home sangat ditentukan oleh peran kepala rumah tangga. Suasana “surga” di dalam rumah dibutuhkan modal, sebagai kepala rumah tangga paling bertanggung jawab atas keberadaan modal tersebut. Lalu modal apa yang harus dimiliki untuk menciptakan “rumahku surgaku”?

Banyaknya harta benda bukan merupakan modal utama untuk meraih kebahagiaan rumah tangga, modal non materi lebih utama ketimbang materi. Modal utama yang harus dimiliki kepala rumah tangga antara lain adalah hope, organizing skill, learning willingness, inventing ability , spiritualistic quotien , training ability, and creativity  yang disingkat dengan (HOLISTIC). Hope yang diartikan sebagai pengharapan yang disertai doa dan usaha. Dalam hal ini dianalogikan bahwa pengharapan apa yang kita tanam akan ada hasil yang akan kita petik, atau dalam falsafah Jawa sapa nandur bakale ngunduh.

Organizing skill yaitu keterampilan dalam mengatur dan mengendalikan seluruh penghuni rumah. Jadi seluruh penghuni rumah baik anak maupun istri tidak berjalan sendiri-sendiri tanpa kendali.  Learning willingness yaitu kemauan mengajak, membelajarkan seluruh penghuni rumah untuk terus-menerus belajar, dalam hal ini belajar dalam artian yang lebih luas, belajar untuk saling memahami, belajar menjadi lebih baik, dan sebagainya.

Inventing and evaluating ability yaitu kemampuan untuk menemukan sesuatu yang baru dan intropeksi diri yang bermanfaat bagi bekal dalam menjalani hidup yang lebih baik. Spiritualistic quotient  yaitu kecerdasan ruhani yang berhubungan dengan keimanan terhadap keberadaan Sang Pencipta, sehingga semua penghuni rumah baik anak maupun istri diajak senantiasa sadar untuk hidup bermakna melalui ibadah dan rasa syukur kepada  Allah SWT. Training ability  yaitu kemampuan untuk melatih diri sendiri dan orang lain mampu berubah ke arah yang lebih positif. Yang terakhir, creativity  yaitu kemampuan berkreasi atau memiliki kaya daya cipta atau ide dalam menjalani kehidupan dan pemecahan masalah.

Perlu difahami bahwa kita semua mempunyai hak yang sama untuk hidup bahagia di dalam rumah tangga. Dengan memiliki sifat-sifat mulia, kebahagiaan akan bisa diraih. Kesadaran atas kewajiban terhadap orang lain maupun Tuhan yakni Allah SWT merupakan modal utama untuk menikmati  “rumahku surgaku”.

*Telah dimuat di RESPON edisi 253 / XXV 20 Juni – 20 Juli 2011.

, , ,

  1. #1 by sukatno on Desember 6, 2011 - 10:46 am

    dari tulisan ini aku berevaluasi untuk menjadi lebih baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: